Terkadang mengabadikan itu lebih baik daripada mengubur dalam-dalam.
- Herotomo Fazry.

Do You Remember?

Apa jadinya jika pertemuan tak disengaja dan tak diperkirakan bisa menjadi suatu kenangan diantara kita berdua? Aku selalu bertanya dalam hati, mungkinkah ini takdir atau hanya kebetulan biasa? Tubuhmu yang kecil, rambutmu yang terurai berponi buatku gila memikirkanmu. Diantara wanita yang tertawa bersamamu, aku tak memperdulikannya. Aku hanya melihatmu saja. Hanya kamu.
            Ingatkah kamu?
            Pada hari itu, tanggal 4 Agustus 2014 teman-temanku dan teman-temanmu dipertemukan dalam satu ruangan kecil. Dilantai 6, kita dikumpulkan seperti tahanan penjara pada masa penjajahan Jepang. Kamu duduk diapit oleh kedua temanmu, aku pun datang menghampiri meja yang sedang kamu tatap bersama teman-temanmu. Sejak aku melihatmu sedang mendengarkan apa yang dibicarakan oleh wanita dewasa di depan kita, Ibu Sela. Aku terus menerus melihatmu walaupun kamu tak sedikitpun menolehku.
                Kupikir kamu itu murid sekolah SMK yang ingin mengambil nilai praktek kerja, sedangkan aku adalah mahasiswa tingkat akhir yang ingin melakukan praktek kerja juga. Ternyata kamu juga seorang mahasiswi, yah semestermu berada jauh dariku tetapi umur kita sama dan aku pikir kita bisa saling dekat dan akrab. Kamu terlalu serius mendengarkan arahan dari Ibu Sela, dua temanmu pun juga seperti apa yang sedang kamu lakukan. Aku dan teman-temanku hanya bisa berdiri seperti bodyguard karena persediaan kursinya terbatas. Tidak apa, yang penting aku bisa melihatmu sangat dekat.
            “Baik, saya akan menjelaskan peraturan dan tata tertib disini ya. Berhubung kalian sudah mahasiswa jadi saya gak perlu memberi contohnya, gak apa-apa kan?” Ujar Ibu Sela.
            Ibu ini terlihat masih pantas dibilang muda, jika aku perkirakan dia sudah menikah dan mempunyai anak. Tapi itu tidak menjadi masalah buatku, aku beruntung karena bisa bertemu dengan kamu yang entah namanya belum aku ketahui. Dan aku yakin, aku bisa mengenal kamu dan teman-temanmu.
            Setelah itu kita semua termasuk kamu diperintahkan menunggu diluar ruangan, seperti anak TK dengan pelajaran menggambar, kita membuat kelompok masing-masing seakan tak pernah kenal. Tapi itu takkan lama, karena aku akan mengenalmu lebih dekat lagi.


            Ingatkah kamu?
            Saat kita terdiam dalam satu ruangan dan bingung harus melakukan apa, kita berdua hanya bisa saling memandang penuh kecurigaan. Berdiri kaku didekat pintu kaca berlapis tebal dan bertuliskan ruangan VIP (pikiranku, mungkin kita berdua itu spesial).
            Sebelum itu, kita semua termasuk kamu, harus mengelilingi lantai per lantai diawali di lantai 6. Dipimpin oleh Ibu Sela, kita berderet mengikuti kemana Ia melangkah sambil membawa lembaran kertas berisikan nama-nama kita semua, termasuk kamu. Aku terus berada di belakang punggungmu, karena aku ingin terus melihatmu berjalan di depanku. Aneh memang, sebagai seorang pria berumur 21 tahun masih takut berhadapan dengan wanita, terutama kamu. Menuruni lantai dengan ratusan anak tangga yang kita lewati, suara langkahnya seperti tentara yang ingin bersiap perang.
            Di lantai 4, Bu Sela mulai menyebutkan nama diantara kita untuk menempati posisi sesuai dengan perhitungannya. 2 orang pun tersisih dari kelompok di setiap lantai nya, aku masih penasaran kira-kira akan berpasangan dengan siapa. Pikirku, tidak mungkin berpasangan dengan temanku sendiri pasti dengan orang lain.
            Lantai demi lantai telah kita lewati dengan suara langkah kaki yang gemuruh, namun namaku belum juga terdengar dari mulut Bu Sela. Begitupun kamu.
            “Kira-kira gue ditempatin dimana ya? Tinggal kita berdua nih yang cowok disini.” Tanyaku kepada salah satu temanku.
            “Gak tau, udah ikutin aja.”
            Setibanya di lantai 1, hanya tersisa 5 orang. Aku masih bingung, dimana posisiku untuk mulai bekerja hari ini. Dan juga 5 orang diantara nya masih ada kamu, sedikit berharap bisa berpasangan denganmu. Lalu, kita diarahkan untuk mengelilingi ruangan dan disana aku melihat pintu kaca berlapis tebal bertuliskan VIP. Kita semua berhenti disana.
            “Herotomo Fazry.” Bu Sela memanggilku.
            “Ya, hadir.”
            Siapakah yang akan menjadi pasanganku di ruangan ini?
            Kamu.
            Ternyata benar, harapanku terpenuhi, bisa berpasangan denganmu diruangan yang entah ruangan apa. Kosong, tak berpenghuni, hanya ada beberapa sofa dan tv flat berukuran cukup besar disana. (YESS) teriakanku dalam hati ini membuat kakiku gemetaran, karena kau berdiri sangat dekat dihadapanku. Rasanya seperti ingin memberi kejutan untuk seseorang yang spesial, gugup, deg-degan, gelisah menjadi satu.
            “Kita disini disuruh apa ya?” caramu menyapaku seperti berbicara dengan hantu.
            Kau tidak melihatku langsung, tetapi pandanganmu itu lebih terarah pada rak majalah yang tersusun rapi disana. Aku tidak tau, bahkan aku bingung kenapa ditempatkan diruang kosong ini. Jawabku dengan berbisik, layaknya hantu yang sedari tadi kamu sapa. Kita terdiam dalam satu ruangan dan melihat sekeliling kita, dan aku belum tau namamu karena tadi aku tak sempat mendengar nama yang disebutkan Bu Sela tadi.
            “Hei, kamu berdua. Sini.” Lambaian tangan Bu Sela membuat kita berdua tergerak mengarah kesana, ya ternyata kita tidak lagi diruangan yang tak berpenghuni. Didalamnya terdapat ruangan kerja lengkap dengan komputer disana, aku dan kamu bergegas menghampiri Bu Sela dan diperkenalkan dengan orang-orang yang ada di divisi ini.
            Kita pun berkenalan dengan orang yang sudah lama bekerja disini, kelihatannya mereka senang akan kedatangan kita, yah hanya peng-ringan pekerjaan mereka. Aku sudah tahu dunia yang seperti ini, kamu tahu? Puluhan tanya pun keluar dari mimik mulut mereka, siapa namanya, kuliah dimana, jurusan apa, tinggal dimana, bisa apa. Dan kebanyakan pertanyaan itu mengarah ke kamu, bukan aku. Aku hanya berdiri mendengarkan dan tersenyum sampai menunggu ada yang bertanya.
            “Kamu namanya siapa?” seorang ibu-ibu bertanya kepadaku.
            “Hero. Bu.”
            “Jurusan apa?”
            “Saya jurusan Manajemen Informatika bu. Komputer.”
            Memang terasa singkat, tapi tak apa setidaknya ibu-ibu itu mengetahui identitasku. Aku penasaran, apa yang bisa membuat perhatian bapak/ibu itu mengajukan banyak pertanyaan padamu. Kamu menarik? Aku tahu. Apa karena kamu masih gadis? Terlebih laki-laki yang berambut putih itu mempunyai cara yang berbeda untuk memandangmu. Aku khawatir, entah apa yang aku rasakan, rasanya aku tak suka jika dia mendekatimu hanya sekedar menggoda.
            Apa karena aku mulai jatuh cinta?

            Ingatkah kamu?
            Kita berdua duduk di kursi yang bersebelahan, dekat, dicampur suasana dingin AC diruangan itu. Berada di bagian loket, sepertinya tugas kita melayani customer yang akan datang nanti. Suasana masih sepi dan tak berpenghuni, karena kebetulan setiap hari senin diadakan upacara sebelum mulai bekerja. Seperti di sekolah saja.
            Aku tau dari suara seseorang melalui sound speaker dilangit-langit ruangan ini, bahwa semua karyawan akan melakukan upacara rutin setiap senin. Dan kita duduk saling diam satu sama lain dan ditonton oleh banyak monitor komputer, jujur saja aku agak malu untuk membuka pembicaraan terlebih dahulu.
            Akhirnya kupaksakan saja.
            “Aku baru pertama kalinya bekerja di kantor sebesar ini.” Kataku sambil menarik kursiku.
            “Iya, aku juga sama.”
            “Kayanya kita bagian pelayanan ya?” Tanyamu padaku.
            “Iya sepertinya begitu, tempat kita loket.”
            “Sepi banget ya.” Lanjutku sambil memandang sekitar ruangan.
            “Kan lagi upacara.”
            Katamu sambil memandangi kukumu yang memakai sejenis kutek berwarna transparan  yang menyesuaikan warna kuku aslimu.
            “Oh iya, kita belum kenalan kan.” Katanya sambil menyodorkan tangan.
            “Amanda.”
            “Hero.”
            Namamu Amanda, ya akhirnya aku tau nama kamu dari ucapanmu secara langsung padaku. Saat itu juga aku sedikit tersenyum, karena kamu juga tersenyum padaku dan kini kau tidak menganggapku sebagai hantu lagi. Kau melihatku. Ah semakin gugup saja hanya ingin berbicara denganmu.
            “Jurusan apa Manda?” Tanyaku dengan sebutan yang kusuka.
            “Sastra Inggris, kamu?”
            “Manajemen Informatika.”
            “Apa itu?”
            “Komputer, website, program, banyak deh.”
            Kita berbincang banyak, Manda. Kita membahas banyak hal yang menurut kita itu seru dan yang pasti menjadi pengalaman kita, salah satunya menjadi customer service. Bagaimana bisa background kita itu berbeda tetapi di tempatkan pada posisi yang sama? Aku IT dan kamu Sastra yang mencoba memasuki dunia Customer Service, aku rasa ini bukanlah kebetulan akan tetapi takdir mempunyai cara tersendiri agar kita di pertemukan, Manda.
            Mendengar bahwa kamu sastra Inggris, aku bercerita padamu tentang niatku pertama kali ingin memasuki universitas setelah lulus. Ya, aku ingin masuk sastra Inggris dan juga bisa mendapatkan universitas negeri di Jakarta ini. Kamu tahu, Manda? Aku sangat mahir dalam berbahasa Inggris tapi hanya di Listening saja kelemahanku, keinginanku untuk bisa masuk sastra Inggris melibatkan keikutsertaanku pada ujian SNMPTN tahun 2012 lalu.
            Kamu menyimak ceritaku dengan terus memandangiku dari jarak yang cukup dekat, terlihat jelas kamu tipe seseorang yang sangat menghargai pendapat orang lain. Dari caramu menatap, dan sedikit menganggukkan kepala itu yang membuatku semakin antusias kembali bercerita, Manda.
            “Kenapa gak coba lagi tahun depan?” Tanyamu.
            Aku berpikir sejenak, memikirkan kembali apa yang kamu katakan.
            “Ah, terlanjur frustasi karena gagal.”
            Kamu hanya tersenyum mendengar jawabanku yang patah semangat masuk universitas negeri, aku rasa bukan hanya itu tapi aku juga awalnya ingin masuk universitas yang sama denganmu. Akan tetapi, aku sadar jika saat itu kita kuliah di tempat yang sama, kita tidak akan dipertemukan dengan cara seperti ini, Manda.
            Lagipula dimanapun kita menuntut ilmu, secanggih apapun fasilitas yang dimiliki itu semua belum menjamin keberhasilan seseorang kan, Manda? Bukannya aku meremehkan keahlianmu dalam berbahasa Inggris, aku juga dapat berbicara bahasa Inggris tetapi tidak sejago kamu. Dan juga kamu itu mahasiswi tingkat akhir, pastinya kamu lebih mengerti dalam writing, reading, speaking, listening.
            Sejenak aku melihat beberapa orang yang sudah duduk di kursi tunggu di depan kita, mereka melihat kita dengan ekspresi wajah kebingungan. Mungkin mereka berpikir, kita berdua baru saja memulai sebagai karyawan baru disana dan dengan pakaian aneh kita.
            “Udah mulai rame tuh.” Katamu lagi-lagi menganggapku hantu sambil memandangi gadget mu.
            “Iya, mudah-mudahan upacara nya cepet selesai.”
            Tiba-tiba saja bunyi telpon pun berdering dari arah belakang, spontan saja kita terkejut dan saling memandang. Kamu tahu? Itu lucu sekali, Manda. Seperti nampak kita ingin saling berbicara tetapi terhenti karena menunggu ada yang bicara duluan. Dan aku masih ingat itu. Bunyi deringan itu terus mengganggu perkenalan kita, sampai akhirnya dia berhenti sendiri karena bosan tak ada yang menanggapi.
            Tak lama kemudian, telepon itu kembali berdering seperti alarm batas waktu untuk mengobrol dengan kamu, Manda.
            “Ah, berisik sekali.” Kataku sambil menghela napas cukup panjang.
            “Mau diangkat?”
            “Hmm, jangan deh. Biarkan saja, lagipula sedang ada upacara kan?”
            Kamu tersenyum kecil dan kembali memandang gadgetmu. Aku bingung harus menanyakan apalagi denganmu, disana hanya ada suara televisi berita terkini dan replika pohon kecil serta aquarium yang berisi ikan berwarna biru. Aku suka biru, bagaimana denganmu, Manda?
            Bagiku, warna biru adalah warna yang tenang, damai, nyaman. Seperti laut dan langit yang cerah, indah bukan? Ketertarikanku pada biru bukan hanya itu saja, selain indah biru juga menandakan warna yang begitu terlihat dingin. Aku orang yang cukup dingin dalam lingkungan yang baru saja aku kenal, Manda.
            Tapi entah kenapa, berada dilingkungan yang baru dan bertemu denganmu itu tidak membuat sifat dingin ku keluar secara spontan. Aku bisa dengan mudah menyapamu, mengenalmu, mengobrol denganmu. Seperti sifat ‘biru’ itu menghilang tiba-tiba.
            Itu karena senyuman kamu, Manda.
           
            Ingatkah kamu?
            Saat mereka memberi kita pekerjaan dan akhirnya posisi kita harus terpisah jauh, kamu di depan dan aku paling belakang. Sebenarnya dalam pikiranku, kita bisa menjadi akrab setelah ini, tetapi posisi duduk kita pun jauh hingga aku tak bisa melihat punggungmu, Manda.
            Aku ditugaskan menjadi petugas entry data, memasukkan data identitas customer. Kukira akan ditugaskan membuat sebuah program ataupun website, jika memang begitu bagaimana dengan tugasmu, Manda? Aku sudah pernah bilang, kita di background yang berbeda tetapi ditempatkan di posisi yang sama. Jadi wajar saja jika tugasku tidak sesuai dengan jurusan kuliah.
            Kamu tahu, Manda? Mentor ku untuk membimbing mengerjakan tugas ini sangat baik dan terbuka. Yah meski sudah tidak muda lagi, akan tetapi dia asik bila diajak ngobrol. Dan kurasa memang aku mulai merasakan nyaman disini, terutama ada kamu, Manda.
            Hari itu, kita kedatangan banyak tamu dan pekerjaanku pun bisa dibilang menumpuk. Di sisi lain aku masih belajar, jadi aku seperti orang bodoh yang banyak bertanya dan juga masih sering salah memasukkan data. Rupanya tidak semudah dengan apa yang ku pikirkan. Dan kudengar, kepala divisi menyebutkan namamu untuk menghampirinya. Mungkin tugas baru untukmu, Manda.
            “Entry data ya?”
            “Eh, Manda. Hehe iya.”
            Aku menoleh kaget karena tiba-tiba kau sudah dibelakangku, melihatku, dengan sedikit membungkukkan tubuhmu.
            “Apa tugasmu?” Tanyaku.
            “Belum ada, belum beruntung mungkin. Hehe.”
            Suara tertawamu membuatku semakin berdebar.
            “Banyak juga ya.” Katamu.
            “Tuh liat, banyak yang antri.” Kataku sambil menunjukkan tamu yang menunggu.
            Kamu berdiri dengan mengenggam tas berwarna merah maroon itu dibelakangku, melihatku bekerja, dan sedikit senyuman. Sebenarnya itu tidak mengangguku sama sekali, dan aku ingin memperlihatkan bagaimana caranya aku bekerja. Tetapi, kamu malah diarahkan oleh kepala divisi untuk menempati bangku yang kosong. Dan itu cukup jauh dalam jarakku, tapi tak apa karena aku masih bisa melihatmu.
            Dan, ada satu hal yang menunjukkan bahwa kamu itu lucu. Pada saat jam pulang kantor, kamu selalu mengajakku untuk berpamitan dan cium tangan kepada seluruh pegawai yang ada disana. Mungkin terlihat aneh di dalam dunia kerja dan para pegawai disana, bagiku itu tidak masalah, Manda.

            Ingatkah kamu?
            Mungkin di dunia ini diciptakan banyak orang yang di kategorikan dalam dua objek, yaitu matahari dan bulan. Matahari, terang, cerah, bersinar kearah manapun yang Ia mau seperti seseorang yang murah akan senyuman dan tawa nya dalam sehari-hari. Dan bulan, dingin, gelap, gersang seperti seseorang yang tak memiliki rasa simpati dan empati tetapi tetap menerangi gelapnya malam seperti peduli.
            Kamu tahu, Manda? Kamu bukan dari objek kedua nya, bukan matahari maupun bulan. Aku bahkan tidak tau cara menguraikannya, wajahmu datar. Kamu memberi senyuman yang tidak seperti matahari, dan kamu juga menunjukkan cara kepedulianmu yang tidak seperti bulan. Mungkin, kamu mirip seperti Asteroid. Pendiam, keras, tajam tetapi akan terlihat sangat indah bila mengelilingi planet Saturnus.
            Sudah satu minggu lamanya kita bekerja bersama di ruang itu, seperti biasanya kamu duduk dengan rapi dan berbagai macam kegiatan yang kamu lakukan. Entah memandangi gadgetmu, menulis di kertas, membaca majalah, atau termenung akan beban pikiran. Tetapi tetap saja kamu akan sedikit tersenyum melihatku datang, sekilas dan tak berbekas. Seperti angin.
            Apakah kamu tidak terbiasa dengan orang-orang baru disini? Ya, yang aku maksud orang baru itu adalah aku, Manda. Begitu pun juga aku dulu, tertutup dan tidak banyak bicara, tidak seperti yang dilakukan oleh karyawan lainnya yang sibuk menerima telepon dan berbicara tanpa henti. Namun, aku berpikir sifat yang aku punya itu akan menghambat komunikasiku dan mempunyai banyak relasi di dunia yang telah kita masuki ini. Jadi aku putuskan untuk menjadi seseorang yang terbuka seperti matahari tapi tak sepenuhnya matahari, sifat bulan juga ada di dalam diriku.
            Jika kuperhatikan, kamu orang yang jarang tersenyum, bukan berarti kamu tidak pernah tersenyum, jelas kamu pernah melakukan hal itu, di depanku. Tetapi itu palsu, Manda. Kamu memang tersenyum, tetapi entah hanya karena ingin membuatku yakin bahwa kamu tidak ada masalah atau tidak selalu saja terlihat seperti “itu”. Maksudku, kamu tersenyum dengan tidak memandang, Manda.
            Walaupun begitu, aku sama sekali tidak merasakan bahwa kamu sama sekali tidak peduli padaku. Hanya saja karena aku terlalu baru untuk kamu kenal, dan itu tak sedikitpun mengurangi perhatianku padamu, Manda. Jujur saja, aku selalu ingin membuka pintu tebal berlapis kaca bertuliskan “VIP” dan melihatmu sedang duduk di kursi biru itu, tersenyum padamu dan mengatakan.
            “Good Morning, Manda.” And I’ll always doing that even you’re never reply it.

            Ingatkah kamu?
            Halo, nona Frost. Kurasa julukan itu sangat cocok untukmu dan sikapmu yang membeku dihadapanku, namun jika kulihat kamu makan siang bersama teman-temanmu kamu terlihat paling aktif dan terlihat lucu akan kelakuanmu. Selfie, bukan hal yang asing lagi untukmu dan teman-temanmu lakukan. Aku selalu memperhatikanmu, senyum, tawa, canda, ceria yang kamu perlihatkan pada teman-temanmu itu.
            Tika, salah satu temanmu yang kukenal saat aku mengantarkan file dan tak sengaja bertemu. Dia seperti matahari, Manda. Aku pun merasa lebih cepat mengenal Tika dibanding kamu hingga melalui dia, aku mempunyai waktu lebih untukmu. Maksudmu? Maksudku, aku jadi punya kesempatan lebih walau itu sedikit untuk mendekatimu, Manda.
            Jam istirahat, aku, bekal ku, dan teman-temanku bergegas ke kantin untuk makan siang dan melepas lelah karena terlalu lama di depan monitor komputer, mengetik, membaca, berkali-kali. Dan kamu juga ada disana dengan bekal mu serta teman-temanmu, seperti kumpulan para gadis dalam film drama. Kamu saling bercerita dengan banyak makanan di mulutmu, hingga tak jelas apa yang kamu bicarakan, Manda. Ya, memang terlihat tidak sopan dalam tradisi budaya di kampung halamanku. Tetapi lupakan saja, ini bukan kampung halamanku.
            Kamu selalu membawa kantung bekal berbahan kain berwarna biru langit, dan memegang dengan kedua tanganmu sambil berjalan seperti anak kecil yang sangat gembira karena hadiah sepeda barunya? Mungkin aku akan lupa dengan warna, tapi aku tidak mungkin lupa dengan apapun yang kamu lakukan saat bersamaku dan ruangan VIP ini, entah apa yang sedang kupikirkan, aku hanya terus memikirkan kamu.
            Kamu suka sekali dengan majalah, kamu suka membaca artikel yang menarik perhatianmu. Terlihat jelas saat matamu tidak sedikitpun terlepas dari susunan kata-kata dari majalah itu, kamu terlihat terbawa akan suasana dalam kutipan artikel dalam majalah itu. Politik, sastra, budaya, sosial, sampai cerita inspirasi habis kamu lahap dalam ratusan menit. Bagaimana kamu tahu? Aku melihatnya, saat aku menyapamu dan tidak kamu balas, Manda. Begitulah aku mengetahui kamu.
            Aku suka melihat rambutmu terurai panjang, tidak berlebihan dan mempunyai nilai khusus untukku sendiri. Tetapi kamu lebih sering mengikat rambutmu secara berkala, mungkin karena takut berkeringat saat bekerja atau memang kamu tidak suka terurai. Tapi aku lebih suka jika itu terurai, Manda.
            Matahari pun mulai meredupkan cahaya nya di langit senja ini.
            Hari sudah sore, dan kesibukan kita pun mulai berkurang karena semakin sedikit jumlah tamu yang datang dan kemudian hilang. Selesai sudah.
            Seperti biasa, kamu mengajakku untuk bersiap-siap dan menghampiri satu per satu karyawan untuk berpamitan sambil cium tangan dan aku terhipnotis olehmu untuk mengikuti apa yang kamu lakukan. Dan tugas kita telah selesai pada hari ini.
            Aku teringat pulpen yang tertinggal di meja kerjaku, dan bergegas kembali untuk mengambilnya.
            “Kenapa?” Tanyamu padaku.
            “Tidak, hanya ada yang tertinggal.”
            Tak lama, aku pun bergegas keluar setelah mendapatkan alat tulis yang aku punya. Dan langsung membuka pintu untuk keluar, karena teman-temanku pasti sudah menungguku diluar. Pintu pun terbuka dan masih tertahan oleh tanganku, diam, dan tidak bergerak. Aku melihatmu masih duduk sendiri memandangi gadgetmu di sofa coklat yang cukup lusuh, terlihat kamu menunggu sesuatu. Mungkinkah aku? Kurasa tidak mungkin.
            Sudah beberapa hari ini ku dapati kamu selalu duduk di sofa coklat yang diletakkan persis di depan pintu masuk ruangan kita, dan selalu aku yang terlebih dahulu keluar untuk menemui teman-temanku.
            “Lho, kamu belum pulang?” Aku bertanya dengan spontan.
            “Nunggu temen.” Jawabmu dengan menunjukkan wajah aslimu.
            “Ohh, umm aku duluan ya.” Kataku menjauhimu.
            “Iya.”
            Aku tau, kamu tidak bisa pulang sendirian tanpa teman-temanmu. Dan kamu selalu menunggu hingga mereka selesai, sedangkan mereka cukup lama untuk menyelesaikan pekerjaannya. Begitupun juga aku.
            Kini, aku bisa menyapamu dua kali yaitu pada saat pagi dan senja. Setiap aku membuka pintu kaca tebal itu, aku selalu melihatmu duduk di sofa lusuh ini. Dan jika kutanya, jawabmu menunggu teman. Bukankah aku temanmu juga? Atau lebih? Ah, aku terlalu berharap akan hal ini, Manda.

            Ingatkah kamu?
            Pagi yang cerah ya Manda, entah kamu menikmatinya atau tidak karena udara yang masih sejuk dan sinar mentari sudah setia menemaniku dalam perjalanan menuju tempat kita bekerja. Barisan puluhan atau bahkan ratusan kendaraan menghalangi jalanku pada cerahnya mentari, (tidak seperti menaiki mobil pribadimu dan melewati jalan tol) pikirku.
            Sederhana, sepeda motor yang ku tumpangi dengan jaket hitam favoritku setia menemaniku untuk menempuh jarak tempat kita bermuara, bertemu, tersenyum. Sudah terlihat dari raga mu, kamu tak pernah menaiki kendaraan sepertiku. Tidak, mungkin kamu pernah menaikinya dan karena suatu hal akhirnya kamu memilih untuk tak menggunakannya lagi.
            Aku tau, kamu selalu saja datang terlebih dahulu dariku, duduk dan terlihat menunggu sesuatu, rupa yang datar, memandangi pintu kaca itu. Dan aku mengerti, kamu selalu melihatku membuka pintu kaca ‘VIP’ itu hingga aku menyapamu dan kemudian pandanganmu berpaling seketika.
            Hari itu, entah kenapa ada sesuatu hal yang membuat pandanganku enggan untuk berpaling. Terasa sihir menyerang penglihatanku, dan terfokus untuk satu hal yaitu kamu, Manda. Sesosok gadis manis bertubuh mungil dengan rambut ‘poni’ tersisir rapi, dan pakaian casualnya yang membuat penampilanmu terlihat cerdas dan tentu mempesona.
            Diam. Hening. Tak bersuara. Kamu terus saja memandangi smartphone milikmu, apa yang sedang kamu tunggu? Kabar seseorang? Mengabari seseorang? Ah, entahlah. Jika aku terlalu terlibat, mungkin kamu takkan mau melihatku dan menyapamu. Lagi.
            Sesampainya di meja kerja, sudah tersedia segelas penuh air hangat di sana. Kita diperlakukan sangat baik oleh mereka(para karyawan), jam pun menunjukkan angka 7 pemberitahuan mulai bekerja pun berbunyi. Divisi ini, bagian yang sangat penting bahkan jantung dari perusahaan yang kita tempati. Terlihat dari pekerjaan yang tiada hentinya, terus menerus melayani tamu yang datang, begitupun aku. Setumpuk lembaran kertas sudah mulai berdatangan untuk ku kerjakan, segera ku nyalakan komputer ku dan masuk ke dalam program aplikasi pelayanan.
            Kamu tahu, Manda?
            Aku bisa membuat aplikasi seperti ini jika itu memang dibutuhkan, aku pasti sudah menjadi karyawan disini mengawasi semua aplikasi yang kubuat. Mataku tak lepas dari tulisan-tulisan di monitor dan tumpukan kertas di mejaku, selain meng-input aku juga harus memeriksa setiap data yang harus di proses untuk tahap selanjutnya. Merepotkan bukan?
            Saat itu, kamu datang menghampiriku.
            “Udah minta tanda tangan absen?” tanyamu sambil berdiri dekat mejaku.
            “Belum, mau bareng?”
            “Oke.”
            Kita semua mendapatkan lembaran kertas untuk absen di setiap harinya, dan diakhir pekan harus diserahkan kepada personalia. Sebelum itu, harus ada tanda tangan dari pembimbing di setiap divisi. Dan kita sudah mendapatkan tanda tangan dari Pak Djoko, pembimbing kita di divisi pelayanan. Lalu kita berdua menuju lantai 6 untuk menemui Bu Sela, bagian personalia.
            Menggunakan lift dalam keadaan kosong, kita berdua masuk ke dalam dan naik secara perlahan. Kamu sengaja mendekat dan memegang lenganku, apa kamu takut Manda? Dalam imajinasiku, bagaimana jika kita berdua terjebak dalam lift ini? Bagaimana kita diselamatkan? Bagaimana caraku untuk membuatmu tenang? Aku terlalu banyak menonton film.
            Aku hanya bisa diam dan tak bisa berkata apa-apa, kamu pun juga sama sepertiku. Di dalam lift kita hanya berdiri menunggu pintu terbuka, dan setelah itu kamu melepaskan genggamanmu dari lenganku. Seakan tak ada bekas apapun terhadap itu.



            Ingatkah kamu?
            Minggu ke-3 sudah tiba, dan ini 2 minggu terakhir kita berada di satu tempat untuk bertemu dan menyapa, Manda. Apa kamu mulai merasa bosan dengan pekerjaan yang begitu-begitu saja? Aku merasakan hal itu, aku ingin ini segera berakhir dan selesai. Dan dalam waktu dekat ini, hanya keinginanku untuk bisa mengobrol banyak denganmu. Aku pun memulai dengan langkah baru untuk bisa dekat denganmu.
            Dimulai dari aku menghampirimu dan menyapamu yang sedang duduk dan membaca kutipan artikel di majalah.
            “Morning.” Kataku dengan berhenti di dekat meja nya.
            “Iya.”
            “Lagi baca apa tuh?”
            “Majalah.” Kamu terlihat jatuh cinta pada tulisan itu hingga tak memandangku sedikit.
            “Motivasi?” Tanyaku sambil melirik sedikit kutipan artikel nya.
            “Bukan. Ini artikel sosial kebudayaan sastra.” Jawabmu dengan melihatku sejenak.
            Entahlah, kupikir langkahku ini akan membuatmu semakin dekat denganku. Dan tidak sampai disitu saja, aku akan memulai tahap selanjutnya. Yah, kurasa aku sudah mulai tertarik dengan karakter sepertimu, Manda. Dan aku suka dengan keunikan apalagi hal-hal yang jarang sekali terlihat di dunia ini.
            Jam kerja yang sangat memadat ini membuatku jenuh, setiap harinya hanya duduk di kursi dan menatap monitor komputer seharian hingga senja datang. Disitu aku berpikir, apakah mereka menikmati pekerjaan yang seperti ini ataukah hanya karena ingin memenuhi kebutuhan hidup saja? Terus terang, jika pekerjaan itu tidak membuatku nyaman lebih baik mencari yang lebih tepat lagi.
            Di tengah kesibukanku datanglah kepala divisi menyuruhku untuk fotocopy berkas untuk di proses, ini baru pertama kalinya aku menggunakan mesin itu. Biasanya hanya melihatnya saja jika datang ke tempat fotocopy, bahkan mengerti caranya pun tidak.
            Karena melihatku sibuk dengan komputer, lalu dia berinisiatif untuk menyuruhmu melakukannya, Manda. Saat itu memang pekerjaanku seperti seseorang yang sedang deadline, bagaimana jika sudah menjadi karyawan? Dan kemudian.
            “Hei.”
            Aku terkejut mendengar suaramu di tengah aku sedang fokus membaca berkas yang baru saja aku input. Manda, apa yang membuatmu menghampiriku?
            “Bisa tolongin gak?” Pintamu dengan wajah yang lugu, seperti anak-anak meminta sesuatu.
            “Apa?”
            “Sini.” Kamu menarikku dari meja kerjaku dan membawaku ke mesin fotocopy.
            “Aku gak tau caranya, kamu bisa?” Katamu.
            “Hmm..”
            Mesin itu dalam keadaan off, dan aku pun mencari tombol on untuk mengaktifkannya.
            Sambil membungkuk, aku menoleh kearahmu dan berkata.
            “Gimana cara nyalain nya ya?”
            Kamu pun tertawa dengan menggelengkan kepalamu, aku baru melihatmu tertawa seperti ini. Lalu, aku pun ikut tertawa karena kita sama-sama tidak tau caranya menggunakan mesin ini.
            Lalu aku langsung bertanya saja kepada pegawai yang lain untuk menyalakan mesin fotocopy untuk bisa kamu gunakan, Manda. Ekspresi tawamu tadi, kini terus menerus terekam dalam pikiranku. Entahlah aku harus bagaimana.
           
            Jam kerja pun berakhir jam 4 sore, semua pegawai disitu bisa bersantai-santai diruangan kita. Bermain games, memutar lagu di komputer mereka, kadang ada yang berjoget jika lagunya dangdut. Sangat seru bukan? Setelah semuanya sudah membereskan barang-barangnya, satu per satu keluar dari ruangannya untuk kembali kerumah.
            Aku melihatmu terburu-buru, dan segera saja aku mengejarmu dengan berjalan cepat. Tumben sekali, biasanya kamu yang selalu duduk di sofa lusuh itu menunggu teman-temanmu kini langsung beranjak pergi begitu saja.
            “Gak nunggu temen?” Tanyaku.
            “Tika? Dia ada latihan menari untuk lomba.”
            “Ohh, mau langsung pulang?”
            “Iya.”
            Kita berdua berdiri di depan pintu lift, padahal kita tau bahwa kita hanya berada di lantai 1. Dan kita membahas sedikit soal Tika, dia penari dan sudah keluar kota bahkan negeri. Hebat. Yang 1 lagi, aku tidak terlalu mengenalnya dan hanya tau namanya saja. Dea.
            “Kita lewat tangga aja yuk.” Ajakku karena lama menunggu lift.
            “Yuk.”
            Kamu menggenggam lenganku. Lagi.
            Kita berbincang banyak hari itu, Manda. Andai setiap hari kita bisa seperti ini, sangat dekat sangat akrab. Seperti buah yang tidak bisa jauh dari pohonnya walaupun sempat terjatuh.
            (Mau pulang bareng?), aku ingin sekali menawarkan padamu tetapi apalah daya lidahku tertahan untuk mengucapkannya, Manda. Rasanya berat, seperti ada yang mengikat lidahku untuk berbicara. Sangat bodoh, padahal kesempatan takkan datang kedua kalinya. Bahkan jika itu datang, takkan sama lagi keadaannya. Sial. Dan aku membiarkanmu pulang sendirian, aku masih menunggu teman-temanku.

            Ingatkah kamu?
            5 hari terakhir yang kita punya di minggu terakhir ini buatku makin tak bisa jauh darimu, selama ini setiap hari setiap pagi aku selalu bertemu denganmu. Menyapamu dan kamu tersenyum padaku, dan kini hanya ada 5 hari terakhir saja.
            Tumben sekali hari ini tugasku tidak banyak, paling hanya beberapa berkas saja yang ku input. Selanjutnya, kupakai untuk bermain games di komputerku untuk menghilangkan kebosananku duduk di kursi terus-terusan. Aku tidak tau kamu sedang apa di depan sana, Manda. Menyusun berkas dan menulisnya di dalam buku rekap data? Itulah tugasmu biasanya.
            Tiba-tiba aku dipanggil oleh kepala divisi untuk menghampirimu.
            “Kamu bantuin teman kamu aja tuh, daripada kamu bengong-bengong.” Katanya.
            Dan segera saja aku menghampiri tempatmu, kulihat sejenak banyak sekali tumpukan kertas di mejamu mungkin jumlahnya ratusan. Kulihat dari belakang, nampaknya kamu sedang memberi stempel di kertas-kertas itu.
            “Mau ku bantu?” Kataku.
            “Iya, bantuin dong. Banyak banget.”
            Aku spontan menarik bangku kosong dan duduk mendekat denganmu, ku hirup sesuatu di hidungku dan itu adalah wangi parfum mu.
            Setiap lembar kertas itu harus diberi 3 stempel, dan jumlah dari kertas itu benar-benar banyak sekali dan mustahil rasanya bila kamu kerjakan ini sendirian. Tanganmu bisa sakit, Manda.
            “Oke, kita bagi 2 aja. Aku pegang 1 stempel, kamu 2.” Katamu sambil memberiku stempel itu.
            “Oke.”
            Seperti menguji kekompakkan kita berdua dalam mengerjakan hal ini, terlihat seperti tugas yang sepele namun memakai kerjasama yang kompak. Kini, jam kerja ku dihabiskan untuk membantu pekerjaan mu. Aku senang bisa membantumu, dan perlahan-lahan kita bisa bercanda. Seperti mimpi, tapi nyata.
            Tiba-tiba aku dipanggil oleh bapak-bapak dibelakangku untuk mengambil berkas yang lainnya dan jumlahnya pun sama denganmu atau bahkan lebih, dan aku juga diberi stempel yang lain disana. Aku berjalan kearahmu dan menaruh tumpukan itu di dekatmu.
            “Wow.” Kataku.
            “Hehehe, semangat yaa.”
            Pertama kalinya aku mendengarkan itu dari bibirmu, Manda. Kita disibukkan oleh tugas memberi stempel ini berdua, berdekatan. Entah akan selesai hari ini atau tidak, tersisa beberapa tumpukan lagi di belakang sana dan sepertinya kita mendapatkan deadline, Manda.
            Kamu terlihat lelah dan berhenti sejenak sambil meregangkan otot-ototmu, aku mempercepat tanganku untuk menyelesaikan setengah dari sekitar 500-600 lembar. Pegal juga rasanya.
            “Kalo kamu udah selesai, bantuin lagi ya.” Katamu mengeluh.
            “Siap ibu boss.” Jawabku meledek.
            Kamu menabrakkan bahumu ke bahuku dengan keras, tapi tak terasa sakit sama sekali entah karena tubuhku yang besar atau tubuhmu yang kecil. Kita tertawa bersama saat itu, berkali-kali. Dan benar, kamu tidak seperti yang kukira. Kamu orang yang lucu, mataharimu perlahan-lahan muncul dibalik tawamu, Manda.
            Moment yang spesial bagiku, Manda. Bagaimana menurutmu? Saat kita akhirnya bisa akrab dan tertawa bersama saat itu, rasanya aku bisa melihat indahnya dunia ini saat berada disampingmu. Seharian penuh kita sibuk memukul kertas dengan stempel yang jumlahnya terlalu kejam untuk kita.

            Sepulang setelah kesibukan kita, aku melihatmu duduk di sofa itu sambil merenungkan sesuatu. Aku pun segera keluar dari ruangan, dan yang kulakukan kini ialah duduk disebelahmu dan menemanimu menunggu teman-temanmu.
            “Nunggu temen juga?” Katamu dengan memandangku.
            “Iya.” Jawabku. (Hanya ingin menemanimu saja) kataku dalam hati.
            Aku ingin mengobrol tetapi tidak tau harus memulainya darimana, aku kehabisan kata-kata untuk memulai.
            “Oh ya, nama kamu Hero apa?”
            Tiba-tiba kamu memulainya untuk pembicaraan kita.
            “Herotomo Fazry, kenapa?”
            “Gak apa-apa, cuma aku pikir-pikir kamu itu beda.” Katamu dengan pandangan melihat patung yang dipajang dalam kantor kita.
            “Beda? Maksudnya namaku keren ya?”
            “Sebenernya Amanda ini nama tengah ku, bukan nama awal. Kebanyakan orang ngerasa aneh jika tau nama awal ku.”
            “Lalu? Nama awalmu apa?” Tanyaku sambil mendekat ke kamu.
            “Premique.”
            “Hah?”
            “Tuh kan, haha. Iya, Premique. Seperti  bahasa Prancis, kamu kan Hero dari bahasa Inggris.”
            Kucoba untuk mengeja nama awalmu, namun masih salah menyebutnya, hehe aku baru saja mengetahui nama pertamamu dan itu pertama kalinya kudengar nama seperti itu. Kamu pun juga baru mendengar namaku.
            “Mungkin karena nama kita berdua unik, jadi ditempatkan di tempat yang sama ya.” Katamu dengan senyummu yang manis itu tepat di wajahku.
            “Hehe, yah bisa jadi seperti itu. Premique.”
            Kita tertawa bersama. Lagi.

            Ingatkah kamu?
            Last day, jujur saja aku benci adanya akhir cerita. Ya, sama seperti hari ini hari terakhir kita bertemu setiap pagi nya. Aku tak bisa membayangkan akan bertemu lagi denganmu atau tidak, akan tetapi aku yakin kita akan bertemu kembali. Entah kapan, tapi pasti kita akan bertemu lagi.
            Ingin sekali aku main kerumahmu dan mengenal semua anggota keluargamu, tetapi kegiatan kita semakin sibuk dan semakin banyak. Disamping kita harus menyelesaikan tugas laporan pkl ini, kita juga harus menyiapkan skripsi untuk sidang nanti. Sejauh ini kita mengobrol lewat WhatsApp tanpa temu rupa, sedikit menyenangkan namun masih terasa kurang.
            Hari ini, pekerjaan kita tidak banyak hanya beberapa saja yang bisa kita lakukan di hari terakhir ini. Setelah tugas stempel berakhir, hari ini kita beristirahat dengan meringankan pekerjaan terakhir kita kali ini. Kamu bilang tanganmu sempat sakit karena terlalu banyak kertas pada hari itu, aku pun juga sama tetapi pura-pura saja tidak apa-apa.
            Hingga mentor kita, Pak Djoko memberi kita tugas untuk menjawab pertanyaan yang entah darimana pertanyaan-pertanyaan itu berasal. Sebenarnya Pak Djoko sendiri lah yang harus menjawab semua pertanyaan itu, akan tetapi diserahkan kepada kita untuk menjawabnya.
            “Ayo kita kerjakan ini.” Katamu menghampiriku.
            “Apa itu?”
            “Semacam pertanyaan untuk dijawab, bantu aku.”
            “Yaa, baiklah. Ayo.”
            Kita berbagi ide dan usul untuk jawaban pertanyaan yang diajukan pada selembar kertas di meja kita, mengajukan beberapa pertanyaan tentang bagaimana pendapat dan tugas-tugas yang diberikan kepada kita.
            Terlihat sangat kompak, kita saling memberikan gagasan kita dan kamu tulis di kertas itu. Aku tidak begitu pintar dalam menyusun kalimat yang baik dan benar, mungkin bagimu itu hal yang sepele. Kita ceritakan segala hal yang kita lakukan di dalam jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu.
            Walau hanya sebentar saja kita bisa tertawa bersama, bagiku itu sudah lebih dari cukup Manda. Kita menjadi akrab, kamu tak lagi menganggapku hantu dan aku tak lagi gugup berbicara denganmu. Kita lakukan hal-hal dari yang tidak penting sampai yang lebih tidak penting lagi, dan itu bersama teman-temanmu.
            Aku berharap hal ini tidak akan berakhir sampai disini saja.
            “Oh ya, kamu berdua terakhir ya hari ini?” Kata salah satu pegawai menyapa kita.
            “Iya, pak.” Jawabmu.
            “Wah harusnya perpisahan, kamu nyanyi nih.”
            “Ahaha, Bapak bisa aja. Gak bisa nyanyi.”
            “Tapi dia bisa nyanyi lagu Korea, Pak.” Kataku memotong pembicaraanmu dengannya.
            “Oh kamu bisa Korea?”
            Dan kemudian kamu dan dia mengobrol asik sampai Bapak itu pun kembali ke mejanya.
            “Darimana kamu tau soal Korea?” Tanyamu penasaran.
            “Aku sering melihatmu menulis huruf-huruf bahasa Korea yang tak ku mengerti.”
            Ya, kamu suka menulis. Menulis sebuah suatu kata yang hanya dimengerti oleh kamu sendiri, dan itu adalah bahasa Korea. Kamu terlihat serius saat menulisnya, setiap kata kamu tulis dengan curahan hatimu. Mungkin itu adalah sebuah cerita yang kau kumpulkan dari lirik lagu. Aku tidak tau itu.
            “Bisa aja kan, aku gak ngerti apa yang aku tulis.” Katamu menghindar.
            “Gak mungkin kamu gak ngerti, kalau sudah tau bentuk tulisan nya seperti itu. Dan kamu terlihat lihai dalam menulis huruf aneh itu.” Jawabku.
            Kamu diam dan tersenyum.
            Hingga hari itu berakhir, kita pun terpisah jarak kembali dan takkan bertemu dalam ruangan VIP. Lagi. Aku mengingat semuanya dari awal aku melihatmu Manda, entahlah kamu mengingatnya juga atau tidak.

            Tahukah kamu, Manda?
            Cerita ini awalnya ingin kuberi judul “Kamu Hijau dan Aku Biru”. Kenapa? Karena hijau itu adalah warna almamater milikmu dan biru itu milikku. Adalah warna dari almamater kita berdua, Manda. Kamu menyukainya? Akankah kamu mengingatnya? Apakah kamu kagum dengan cerita yang kubuat untukmu?
            Perlahan aku bisa tau segala hal darimu, apa yang kamu suka, apa yang kamu benci, siapa idolamu, apa impianmu, bagaimana kelucuanmu. Dan masih banyak yang lainnya, jika kamu menanyakan darimana aku mengetahuinya?
            Itu karena aku selalu memperhatikanmu Manda.

            Apakah kamu mengingatnya?
            Untuk wanita yang ku kagumi.
            Premique Amanda Zulfia. 
Share on Google Plus

About Unknown

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar

Berkomentarlah yang baik dan dapat dicerna oleh akal sehat, jika berkomentar yang buruk berarti akalmu tak sehat.