
Pacaran, hal yang paling bikin bahagia saat kita mempunyai seseorang yang begitu peduli dan selalu ada disaat kita sedih.
Jawaban
dari beberapa orang yang gue survey tentang mengapa memilih untuk
"PACARAN" dan mengapa kebanyakan dari mereka itu "GAGAL"?
Ada dua
hal yang gue ambil sebagai kesimpulan, kenapa kita sering sekali gagal karena
cinta dan munculnya kata "MOVE ON".
Pacaran,
gue jadi inget waktu pertama kalinya pacaran sama temen satu sekolah dan bakal
gue uraikan kenapa dalam percintaan harus terdapat kata "MOVE ON".
Pertama,
berawal dari anak sekolah yang menikmati dunianya sendiri yang tidak mengerti
apa-apa soal CINTA dan mungkin gak pernah tau apa rasanya CINTA. Yang Ia tau,
cuma games, dan segala hal yang Ia nikmati bersama teman-temannya. Dan
tiba-tiba CInta itu pun datang sendiri tanpa permisi dan tujuan untuk apa dia
datang. Saat SMA, gue mulai berpikiran untuk mencoba untuk PACARAN yang pernah
gue liat di layar televisi. Rasa suka bisa datang kapanpun yang mereka
inginkan, dan itu datang kepada seorang gadis sekelas. Entah apa tujuan rasa
suka itu datang, gue hanya merasa senang kalo lagi deket sama dia. Karena dia
baik, ya. Hanya itu yang bisa gue lihat, dan bagi gue rasa suka itu cuma
main-main.
Nembak
seseorang?
Bahkan
gue pun gak ngerti kenapa harus nembak dia, saran dari temen deket gue disana.
"Gue baru aja jadian lho sama si A, nah tinggal lo nih. Lo lagi suka kan
sama si B"?. Hasutannya pun malah bikin gue penasaran, emang gue gak
pernah ngelakuin hal itu secara langsung. Dan gue pikir hal seperti itu gak
perlu, cukup suka aja dan jalani ini bersama-sama. Karena gue pikir ini bakalan
jadi biasa aja, malah kebalikannya. Gue gatau apa yang terjadi di diri gue,
sampe susah ngeluarin kata-kata yang disaranin temen gue.
"Gue
suka sama lo, lo mau gak jadi pacar gue?"
Dan
hasilnya, status gue pun BERPACARAN. Gue gak tau apa-apa soal pacaran, pegangan
tangan aja gak pernah gue lakuin. Dan gue pun berani ngelakuin hal yang kaya
gini, entah apa yang gue pikirin. Ya, cuma main-main.
Hal pertama
yang gue rasain, emang seneng sih bahagia. Tetapi yang bisa gue lakuin hanya
berbuat seenaknya, sesuka hati gue tanpa memikirkan perasaan seseorang yang
peduli sama gue. Mungkin karena gak tau apa-apa cuma itu yang bisa dilakuin,
selayaknya dengan dunia gue sendiri bebas ngelakuin apapun yang gue mau. Dia
sering nangis karena gue, diantara kita gak ada yang mau kalah, masih egois dan
memikirkan diri sendiri. Tapi dia masih peduli sama gue, jadi ini CINTA?
Mengorbankan segala hal untuk membuat pasangan kita seneng?
Gimana
kalo kita tak dibalas dengan apa yang udah kita korbankan?
Dan ini
adalah hal yang kedua, dalam berpacaran kita menjadi fokus hanya satu tujuan
yaitu pasangan kita. Setiap orang pasti punya mimpi, dan karena CINTA mereka
akan melupakan mimpi-mimpi itu bahkan melupakan cita-cita, pelajaran, nilai,
bahkan lebih parah. Pandangan gue waktu itu, pacaran cuma main-main dan hanya
untuk kesenangan diri gue sendiri. Gak sedikitpun mikirin perasaan dia, dan gue
pun perhatian karena memang itu seharusnya yang dilakukan orang PACARAN dalam
drama tv. Dan dia tetap bertahan untuk membuat gue mengerti apa itu CINTA, gak
tau apa yang dia pikirkan. Gue tetep masa bodoh.
Dan
ketika salah satunya mulai jenuh dan tak bisa meneruskan?
Pertama
kalinya gue merasakan kehilangan seseorang yang dulu begitu peduli dengan
hal-hal sepele, seseorang yang juga sering ngomel dan menganggu hobi kita.
Buat apa
pacaran, jika kita tidak mengerti apa itu CINTA. Buat apa pacaran, jika satu
sama lain saling mementingkan ego. Buat apa pacaran, jika kita masih ingin
sendiri menikmati dunia kita. Buat apa pacaran, jika tak punya rasa apapun
kepada pasangan.
Disini
gue belajar suatu hal, CINTA gak bisa didasari dengan rasa suka, CINTA bukan
mainan anak-anak smp yang dengan mudahnya jatuh cinta, CINTA bukan alat
pelampiasan untuk kita berlabuh sejenak. CINTA itu bukan PACARAN, yang hanya
digunakan untuk status.
Memang
awal merasakan CINTA benar-benar beda, kita merasa diperhatikan, kita merasa
diutamakan. Tapi jika tak bisa menyeimbangkannya, percuma saja. Perlahan,
setiap tangis, kecewa, amarah, dan cemburu. Itu pelajaran yang gue dapat
darinya.
Mengharapkan
dia kembali?
Nggak,
gue hanya berharap semoga dia mendapatkan yang lebih baik untuk hidupnya kelak.
Jika gue paksakan untuk terus sama gue, diantara kita gak bakal ada yang
berubah dan semakin mengerti untuk apa kita merasakan CINTA dan apa tujuan
CINTA itu datang.
Itulah
sebab nya kenapa ada kata MOVE ON dibalik CINTA.
Satu-satunya
langkah dalam kegagalan percintaan, bukan sebagai musibah atau bencana. Tetapi
sebagai pijakan awal pembelajaran untuk kita agar bisa lebih menghargai dan
mencintai segala hal walaupun itu sepele. Karena MOVE ON, kita bisa lebih fokus
untuk mencapai impian kita dan mungkin mudah membuat kita menjadi seseorang
yang lebih baik dari sebelumnya. Sampai CINTA itu datang kembali, kita siap
untuk memulai dan mengakhirinya dengan sebuah cerita indah bersama sampai ajal
menjemput.
FIN
0 komentar:
Posting Komentar
Berkomentarlah yang baik dan dapat dicerna oleh akal sehat, jika berkomentar yang buruk berarti akalmu tak sehat.