Teringat masa kecilku saat itu, mendengar nyanyian mu untuk menidurkanku.
Kau bercerita tentang seorang ksatria tangguh, berani, tampan sepertiku katamu.
Siap melindungi orang-orang yang dicintainya, dan rela mengorbankan nyawanya
demi melindungi mereka. Kau memelukku saat dingin menyelimutiku dan mengenggam
tanganku erat. Juga yang memarahiku, saat nilai-nilai pelajaranku tidak sesuai
dengan yang kau inginkan. Hingga aku menangis saat itu, dan kau hanya melihatku
dan mengusap air mataku yang mulai berjatuhan.
Ketika
marabahaya datang menghampiriku, kau selalu berdiri lebih dulu didepanku dan
melindungiku. Selalu menjadi tempatku menangis, gembira, takut, gelisah dan kau
selalu tersenyum. Ketika aku takut akan suatu hal, kau mengusirnya sampai tak
tersisa. Ya, serangga jika kau masih ingat.
Tanganku yang
selalu kau pukul dengan penggaris, jika aku mulai tidak bisa diatur. Tidak mau
sekolah dan belajar. Lagu yang kau nyanyikan ketika kuingin tidur lelap,
kujadikan cerita seperti ini. Dan kau selalu saja bisa membuatku nyaman ketika
berada di dekatmu. Rasanya seperti kau adalah satu-satunya seseorang yang tidak
akan pernah menyakitiku.
Ketika aku
mulai malas dan lebih sering bermain dibanding belajar, mengakibatkan
prestasiku turun di sekolah. Kau langsung menghukumku, dengan merusak atau
membuang mainan kesayanganku. Sudah tau akan begitu, aku tetap mengulangi
kejadian yang sama. Hingga kau mengurungku di dalam kamar dan tak boleh keluar
rumah.
Yang selalu
mengkhawatirkanku jika aku sakit, dan selalu menjadi obat pertama yang
kudatangi. Selalu mendukungku dalam kompetisi di sekolah maupun bukan,
penyemangat yang hebat dan membuatku semakin semangat.
Menjadi
penenangku disaat ku menangis, menjadi panutan jika ada yang menyakitiku.
Menjadi menyeramkan jika aku berbuat hal yang buruk, diam-diam aku mengambil
uang saku untuk membeli es krim. Kau memukuli tanganku dengan hanger (alat gantung pakaian),
memarahiku dan akhirnya menasehatiku.
Usapan tanganmu
di kepalaku ketika aku mulai tertidur, sangat ingin kurasakan kembali.
Kenakalanku saat mengenal games
playstation, membuat rankingku
turun di sekolah. Dan kau juga yang memarahiku habis-habisan, dan setelah itu
melarangku bermain lagi.
Melihat tawamu,
adalah sesuatu yang membuatku bahagia yang tidak ada hentinya. Ingin sekali aku
menjadi yang terbaik untukmu dan menjadi kebanggaanmu. Kau selalu mengatakan,
jangan pernah menyerah dengan apa yang kamu lakukan.
Tak ada satupun
kebaikanmu yang bisa kubalas kini, takkan bisa di bandingkan oleh apapun di
dunia ini. Kau telah mengajariku banyak hal, dan kau juga seseorang yang ingin
aku menjadi jauh lebih baik dibanding kau.
Kini kau
semakin lemah dan tidak berdaya. Tak bisa lagi melindungi bintang yang kini
semakin terang benderang menyilaukan. Bintang kecilmu ini sudah tumbuh dewasa,
mampu berdiri sendiri tanpa bantuan darimu lagi. Yang dulu kau jaga selalu,
kini akan selalu menjagamu.
Ibu, tak banyak
yang bisa kuberikan padamu dan tak sebanding dengan apa yang sudah kau lakukan
untukku. Walau aku ingin sekali membalas kebaikanmu, tetapi rasanya takkan
pantas kulakukan. Aku ingin mengukir senyummu untukku sekali lagi, dan takkan
pernah mengecewakanmu lagi.
Melihat
senyuman indahmu, itulah impianku. Rasa kebanggaan yang diukir oleh senyumanmu
yang kuinginkan.
Maka dari itu,
biarkan bintang kecil ini yang akan melindungimu.

0 komentar:
Posting Komentar
Berkomentarlah yang baik dan dapat dicerna oleh akal sehat, jika berkomentar yang buruk berarti akalmu tak sehat.