Terkadang mengabadikan itu lebih baik daripada mengubur dalam-dalam.
- Herotomo Fazry.

Your Little Star

Teringat masa kecilku saat itu, mendengar nyanyian mu untuk menidurkanku. Kau bercerita tentang seorang ksatria tangguh, berani, tampan sepertiku katamu. Siap melindungi orang-orang yang dicintainya, dan rela mengorbankan nyawanya demi melindungi mereka. Kau memelukku saat dingin menyelimutiku dan mengenggam tanganku erat. Juga yang memarahiku, saat nilai-nilai pelajaranku tidak sesuai dengan yang kau inginkan. Hingga aku menangis saat itu, dan kau hanya melihatku dan mengusap air mataku yang mulai berjatuhan.

     Ketika marabahaya datang menghampiriku, kau selalu berdiri lebih dulu didepanku dan melindungiku. Selalu menjadi tempatku menangis, gembira, takut, gelisah dan kau selalu tersenyum. Ketika aku takut akan suatu hal, kau mengusirnya sampai tak tersisa. Ya, serangga jika kau masih ingat.
     Tanganku yang selalu kau pukul dengan penggaris, jika aku mulai tidak bisa diatur. Tidak mau sekolah dan belajar. Lagu yang kau nyanyikan ketika kuingin tidur lelap, kujadikan cerita seperti ini. Dan kau selalu saja bisa membuatku nyaman ketika berada di dekatmu. Rasanya seperti kau adalah satu-satunya seseorang yang tidak akan pernah menyakitiku.
     Ketika aku mulai malas dan lebih sering bermain dibanding belajar, mengakibatkan prestasiku turun di sekolah. Kau langsung menghukumku, dengan merusak atau membuang mainan kesayanganku. Sudah tau akan begitu, aku tetap mengulangi kejadian yang sama. Hingga kau mengurungku di dalam kamar dan tak boleh keluar rumah.
     Yang selalu mengkhawatirkanku jika aku sakit, dan selalu menjadi obat pertama yang kudatangi. Selalu mendukungku dalam kompetisi di sekolah maupun bukan, penyemangat yang hebat dan membuatku semakin semangat.
     Menjadi penenangku disaat ku menangis, menjadi panutan jika ada yang menyakitiku. Menjadi menyeramkan jika aku berbuat hal yang buruk, diam-diam aku mengambil uang saku untuk membeli es krim. Kau memukuli tanganku dengan hanger (alat gantung pakaian), memarahiku dan akhirnya menasehatiku.
     Usapan tanganmu di kepalaku ketika aku mulai tertidur, sangat ingin kurasakan kembali. Kenakalanku saat mengenal games playstation, membuat rankingku turun di sekolah. Dan kau juga yang memarahiku habis-habisan, dan setelah itu melarangku bermain lagi.
     Melihat tawamu, adalah sesuatu yang membuatku bahagia yang tidak ada hentinya. Ingin sekali aku menjadi yang terbaik untukmu dan menjadi kebanggaanmu. Kau selalu mengatakan, jangan pernah menyerah dengan apa yang kamu lakukan.
     Tak ada satupun kebaikanmu yang bisa kubalas kini, takkan bisa di bandingkan oleh apapun di dunia ini. Kau telah mengajariku banyak hal, dan kau juga seseorang yang ingin aku menjadi jauh lebih baik dibanding kau.
     Kini kau semakin lemah dan tidak berdaya. Tak bisa lagi melindungi bintang yang kini semakin terang benderang menyilaukan. Bintang kecilmu ini sudah tumbuh dewasa, mampu berdiri sendiri tanpa bantuan darimu lagi. Yang dulu kau jaga selalu, kini akan selalu menjagamu.
     Ibu, tak banyak yang bisa kuberikan padamu dan tak sebanding dengan apa yang sudah kau lakukan untukku. Walau aku ingin sekali membalas kebaikanmu, tetapi rasanya takkan pantas kulakukan. Aku ingin mengukir senyummu untukku sekali lagi, dan takkan pernah mengecewakanmu lagi.
     Melihat senyuman indahmu, itulah impianku. Rasa kebanggaan yang diukir oleh senyumanmu yang kuinginkan.

     Maka dari itu, biarkan bintang kecil ini yang akan melindungimu.
Share on Google Plus

About Unknown

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar

Berkomentarlah yang baik dan dapat dicerna oleh akal sehat, jika berkomentar yang buruk berarti akalmu tak sehat.