Terkadang mengabadikan itu lebih baik daripada mengubur dalam-dalam.
- Herotomo Fazry.

Rindu Tiada Berupa

03 Agustus 2010, 5 tahun yang lalu. Entah mengapa aku takkan pernah melupakan hari itu.
Setiap memandangi sosokmu dalam sebuah bingkai, ribuan memori pun terasa di recovery kembali setelah sekian lama dan aku pun tersenyum sendiri. Anehnya, setiap detik ku mengingatmu dan tiap detik itu juga tak bisa kurasakan apa yang seharusnya kurasakan.
Kenangan-kenangan yang sempat kita lalui pun tak ada yang ku lewatkan, aku masih mengingatnya jika kau ingin tahu. Bahkan tak perlu waktu lama untuk mengingatnya kembali, seperti apa yang orang-orang bilang. “Kau takkan pernah bisa melupakan cinta pertamamu.”

Ya, mungkin bagimu diriku bukan yang pertama atau bahkan bukan yang terbaik. Akan tetapi, jujur saja kamulah cinta pertamaku yang bahkan tak pernah terpikirkan olehku bisa mendapatkan dirimu. Sejak itu kehidupanku berubah karena kedatanganmu.
Kau tahu? Sebelum mengenalmu, hidupku berantakan, tak tahu arah, mudah terpengaruh dan diselimuti kehampaan. Game, satu-satunya yang bisa mengerti dan menemaniku setiap saat. Pergaulanku dengan wanita saat disekolah tidak begitu baik, diriku begitu dingin untuk mengenal wanita. Seperti vampire, tak memiliki hati, dingin, jahat.
Bukan hal yang mustahil jika tak ada wanita yang bisa bertahan dihadapanku, karena sikapku yang begitu kasar dan arogan. Hingga akhirnya kita pun bertemu, tak disengaja maupun dipaksakan. Aku pun tidak memperdulikanmu, dia, atau seluruh isi kelas itu. Aku hanya memperdulikan diriku dan game, tentunya.
Separuh waktuku bisa kuhabiskan demi game dibanding pelajaran yang baru saja dipelajari, entahlah rasa ketidakpedulianku telah mengalahkan segalanya. Dari cita-cita, mimpi-mimpiku yang kini masih kupikirkan. Apakah aku masih bisa meraihnya?
Posisi kursi dudukku mungkin hanya berjarak setengah langkah kaki dengan kursimu, kita memang sangat dekat namun terasa tak bisa melihat. Kau mungkin sudah tahu namaku, tetapi aku tak peduli dengan siapapun. Bahkan hanya sedikit yang mengenaliku, seorang gamer juga tentunya. Aku tak tahu, aku hanya merasa nyaman ketika berdiskusi tentang game dengan orang pencinta game juga.
Perlahan, kau pun bisa menyapaku. Bertanya akan tugas pr itu hal yang sangat biasa dilakukan, jujur saja rasa malas untuk mengerjakan tugas pr ini sudah ada dari dulu. Sampai-sampai mungkin kau sudah tau jawabannya sebelum menanyakan itu padaku. Aku pun mencoba untuk mencairkan sikap dinginku, bosan juga sepertinya jika terus-terusan begini.
“Hah? Emang ada tugas ya?”
“Ya ada lah, emang minggu lalu gak dengerin?” katamu.
“Enggak.” Jawabku.
“Yaudah nih, cepet salin.”
Tanpa berpikir panjang dan dengan mudahnya kau memberikan hasil pekerjaanmu padaku, hal seperti ini memang aneh. Bisa-bisanya kau melakukan itu semua, padahal kita sama sekali tidak pernah akrab. Dan tak pernah berbicara.
Jenuh juga rasanya seharian mendengarkan perbincanganmu dan teman sebangku mu itu, tak ada waktu jeda untuk mengambil nafas sebentar. Telingaku tak ada henti-hentinya menerima perbincangan yang sama sekali tak penting menurutku, lebih baik tak usah dibicarakan hal seperti itu.
Aku bingung, kenapa banyak wanita yag sangat menyukai budaya Korea. Dimulai dari drama, tradisi, maupun gaya trendi disana. Apalagi pria-pria Korea, persis seperti apa yang kau perbincangkan dengan temanmu saat ini. Terlihat antusias sekali, sampai aku pun sendiri hapal dengan semua dunia Korea.
Aku lelaki penyendiri, tidak punya banyak teman dan tak pandai cara bergaul. Di waktu jam istirahat pun kuhabiskan di dalam kelas dengan membaca atau melamun tak jelas. Sangat membosankan jika menjadi lelaki sepertiku. Dibanding kau, gadis cerewet, pintar, pandai bergaul dan juga baik. Sulit sekali rasanya bagiku untuk beradaptasi dengan dunia SMA ku saat itu.
Sampai kau mencoba untuk beradaptasi denganku, mengajakku ngobrol, bercanda, dan hal yang tak penting lainnya. Seperti mengejekku, menggoda, merajuk. Aku tidak peduli. Kau mungkin berpikir betapa jahatnya diriku, yang terlalu tidak memperdulikan orang lain.
Namun dengan perlahan, kau bisa membuatku tersenyum dan merasa nyaman jika kita berbicara. Manusia super baik seperti dirimu yang rela memberikan buku catatan pr mu padaku, mungkin hanya kamu. Bahkan kau selalu bertanya padaku, “Udah ngerjain tugas belum?” dan lalu kau menyuruhku cepat-cepat menyalin semua pekerjaanmu.
Baru sekali dalam hidupku, ada seorang gadis yang begitu lugu dan mau membantuku dalam hal apapun. Perasaan apa ini? Rasanya sangat mengganjal dihatiku, gelisah tetapi seperti candu.
Suatu ketika kita pernah berbicara, membicarakan hal yang tidak penting menurutku. Apalagi jika bukan soal idolamu, dunia Korea. Drama Boys Before Flowers yang membuatmu histeris bercerita, seperti kau bercerita tentang salah satu pria di dalam drama tersebut. Reaksimu seperti sedang tergila-gila olehnya, dan reaksiku mendengarmu hanya menganggukkan kepalaku saja.
“Hmmm.” Tingkahku melihat ke dalam tas untuk melihat jam di ponsel. “Ngapain tuh?” tanyamu penasaran. Ditariknya tasku hingga terlihat aku sedang mengenggam ponselku, aku ini orang yang tidak terbuka soal identitas seperti nomor telepon dan lain-lain. Jadi wajar saja banyak yang mengira jika aku punya ponsel baru.
“Wah, hape baru ya? Coba liat sini.” Paksamu sambil merebut ponsel dari tanganku. Aku hanya pasrah saja, lagipula apa yang bisa kau lihat dari isi ponsel tua ku. Tak ada yang istimewa.
“Save nomor gue sekarang, gue mau misscall.” Katamu yang sudah menyimpan nomormu sendiri di ponselku.
Begitulah caramu mendekatiku, dan kau berhasil melakukannya. Memang sedikit aneh dengan caramu itu, untuk kita saling mengenal saja kau sampai melakukan itu semua. Aku tidak mengerti apa sebenarnya maumu, kusikapi itu semua dengan tawaan kecilku saja. Bahkan aku tau, kau menulis namaku dalam lembar kertas putih yang bersih. Itupun kuanggap hal yang biasa saja.
1 tahun pun terlewati begitu saja, saat penjurusan memisahkan kita dari ruang yang kecil dengan dua kursi yang berbaris. Kursiku dan kursimu yang membelakangiku. Sebenarnya isi ruang itu sangat luas dan banyak kursi yang berdiri, tetapi entah mengapa aku hanya merasakan kursimu saja. Hal yang pertama kulihat ketika memasuki kelasku.
Mungkin kau akan ingat ketika aku iseng mengirim pesan padamu berisikan ‘Eh, lo masuk jurusan apa?’. Saat itu malam yang larut, mustahil jika kau langsung membalasnya karena kukira pasti sudah tidur. Akan tetapi, kau membalasnya malam itu juga dan jahatnya aku menghentikan balasanku. Berakhir begitu saja. Hingga aku pun tahu, kau keluar rumah malam itu membeli pulsa hanya untuk membalas pesanku.
Kau IPA dan aku IPS.
Ruang itu kini menjadi ruangan yang hanya ada satu kursi, seperti ruangan interogasi. Jarakku untuk meraihmu dihalangi oleh dinding besar. Jangankan wajahmu, melihat bayanganmu saja itu hal yang sulit sekarang. Ada sedikit rasa sepi dalam hati, tak berwujud dan tak bersuara. Aku merasakan itu sekarang.
Langkah kakiku begitu bersemangat menyusuri jalan bebatuan, kita berjalan bersama-sama ketika pulang. Bersama temanku dan temanmu juga, mengobrol dari hal-hal yang tak penting sampai tak ada habisnya.
Rencana temanku yang ingin mengungkapkan rasanya terhadap temanmu itu melibatkan diriku juga untuk membantunya. Mungkin kau juga sama. Dan dihari itu temanku pun memegang tangan temanmu, mereka jalan berdua berdampingan dan terlihat temanku sedang memohon sesuatu padanya.
Tersenyum ku melihat mereka berdua, ketika kulirik parasmu terlihat seperti menginginkan sesuatu. Dari cara matamu memandang mereka berdua, dan gelagat bibirmu yang selalu kau basahi dengan lidahmu. Memunculkan ratusan tanya dibenakku, rasa ingin tahu itu terus menghampiri kepalaku. Ada apa dengan diriku?

Beberapa waktu kemudian, kita pun menjadi dua orang yang terisolasi dalam ruangan yang dibatasi dinding baja. Tak bisa menyapa, bercanda, bahkan yang selalu memberikanku contekan tugas rumah yang diberikan.

Walaupun sesekali aku memasuki kelasmu menemui temanku untuk sekedar mengobrol santai ketika jam kosong. Sesekali aku melirikmu, kau bahkan diam tanpa suara dengan tingkahmu menulis-nulis dalam kertas bukumu. Ingin menyapamu saja berat rasanya tuk berkata hai.
Ketika ku menghabiskan waktu bersama temanku, kita berbincang hal masalah kemarin perkara dia kini telah berpacaran dengan temanmu. Mendengar ceritanya, rasanya jadi penasaran dengan apa yang dia rasakan saat itu. Mencintai seseorang adalah suatu hal yang tidak pernah kurasakan sebelumnya, dan aku tak terbiasa dengan itu semua. Tetapi berkat kisahnya, aku ingin mencobanya.
“Eh, lo tau gak? Denger-denger, selama ini dia itu naruh hati sama lo.” Ujar temanku saat menunggu kendaraan umum.
“Dia? Masa sih, kayanya lo ngarang deh.”
“Jadi selama ini lo gak sadar? Dia(pacar temanku) cerita banyak sama gue.”
Aku pun terdiam akan pernyataannya tentang gadis lugu itu.
“Ayolah, gue tau lo juga ada rasa kan sama dia?” Tanyanya kembali.
“Gak tau deh, gue bingung.”
“Yaudah coba cari tau aja, masa gue doang sih yang berhasil jadian. Haha.” Katamu menertawaiku. Sedikit tak menduga jika benar kau telah melabuhkan rasamu di dermagaku. Dan bodohnya aku tak menyadari itu semua, jika saja aku bisa mengerti apa yang kau maksud dari tingkahmu. Dan sekarang aku bisa merasakannya, perasaan yang terhenti ditengah jalan yang begitu panjang.
Dan akhirnya, aku mencari tahu kebenarannya bahwa dia memiliki perasaan itu. Dan apakah dia masih memilikinya, atau sudah membuangnya karena berpikir itu akan sia-sia? Jika benar, aku sudah melewatkan kesempatan yang takkan kedua kalinya hadir di hidupku.
Aku pun meminta bantuan temanku untuk membuat dia mau menemuiku hari itu, di tempat pemberhentian bus sore itu. Dipenuhi banyak orang yang ingin kembali pulang saat itu, aku duduk terdiam di tepi jalan sambil memikirkan apa yang akan kukatakan padanya. Jujur saja, mengungkapkan rasa secara langsung baru kali ini akan kulakukan. Debaran hati pun terlalu keras jika terdengar suaranya. Dan ketika kau datang, pandanganku kacau.
Aku gugup dan tak tahu harus berbuat apa dihadapanmu. Kakiku gemetar, rasanya sangat sulit untuk berdiri menyapamu. Rasanya seperti mati rasa sejak itu.
“Umm, hai.” Sapaku basa-basi padanya.
“Mau ngomong apa?” Katanya.
Tingkahku seperti anak kecil yang ketahuan mencuri sesuatu, menundukkan kepala dan menggerakkan kaki-kakiku tak bisa diam. Bibirku terasa terbujur kaku, tak bisa berucap apapun. Katakan hai sekali lagi saja berat sekali rasanya. Entah apa yang harus kulakukan.
“Haha, kenapa pucet gitu? Cepet dong, gue mau pulang nih.” Ujarnya mengejekku.
Sudah terlanjur menyelam, jadi akhirnya kupaksakan saja untuk mencari tau apa benar dia meninggalkan perasaan itu.
“Emm, gue..suka..sama lo. Lo mau...gak...jadi..pacar....g..g..gue?” kataku gugup sambil meremas daun-daun disampingku.
“Hmm, pinjem handphone nya.” Katamu memaksa meminta.
Jari-jarimu sangat sibuk menekan tombol-tombol yang ada di ponselku, entah apa yang kau lakukan pada ponselku. Apa mungkin kau memeriksa segala hal dalam ponselku? Yang benar saja. Tak lama kemudian, kau mengembalikannya.
“Udah ya, gue pulang duluan.” Katamu dengan melangkah pergi dengan kendaraan umum yang menunggumu.
Iya.
1 kata terdiri dari 3 huruf dan beribu makna yang tertanam dalam memori otakku. Rasanya tak bisa digambarkan, dan tak bisa diceritakan oleh kata-kata. Tidak pernah menduga bahwa aku bisa menyatakan hal itu, dan kau pun membalasnya dengan ringkasan yang menurutku pasti banyak yang kau rasakan.
Kini aku memilikimu yang tanpa sedikitpun kubayangkan bisa diwujudkan. Tetapi kenyataannya, kau memilihku untuk bersamamu dalam hidupmu. Temanku dan beberapa orang lainnya yang menyaksikannya pun bersorak padaku, dan langsung saja temanku meminta traktiran padaku.
Sesampai dirumah, aku duduk termenung diranjang kamarku. Masih berpikir, apakah ini sungguhan? Aku memiliki seseorang yang sama sekali tidak kuduga. Aku dan kamu itu sudah tidak ada, yang ada itu Kita.
Terlalu banyak cerita bahagia yang kurasakan saat berada disisimu, karena dibalik itu semua aku mampu menjadi sesuatu yang baru karenamu. Hidupku lebih berwarna saat melihat wajah dan senyummu, kita melalui waktu yang tidak sebentar dan tetap saling menggenggam.
Menurutku, kau wanita yang ajaib. Bertahan dengan kepribadian lelaki yang cukup buruk seperti diriku, dan selalu ada untukku. Aku berusaha untuk menjadi yang kau pinta, hanya untukmu apapun akan kucoba buktikan asalkan kamu bahagia. Pribadiku semakin membaik karenamu, amarahmu, cemburumu, kepedulianmu.
Dan akhirnya kau berhasil merubahku, berhasil membuat diriku berbeda dari sebelumnya. Dibalik wajah cuekku, tersimpan beribu rasa bahagia memilikimu. Dan kuharap ini bisa bertahan sampai waktu yang menentukan akhir cerita kita.
Aku tahu, tidak semua harapan kita akan menunjukkan hasil yang sama. Ribuan memori itu terasa seperti hilang, jika itu berbentuk kertas sudah pasti akan berserakan dimana-mana. Tak beraturan, seperti daun yang berjatuhan dari sang pohon.
Kau mungkin sudah berada di posisi titik jenuh itu, tempat yang sama sekali tak kuharapkan akan ada di kehidupan kita. Kau menginginkan kita terpisah, tak lagi jalan bersama dan tak lagi saling tertawa. Aku terus memikirkan apa yang sudah kuperbuat padamu, hingga akhirnya kau memutuskan itu semua.
Akan tetapi, kau membuat alasan yang tak bisa kucatat dalam ingatanku. Alasan yang tak masuk akal menurutku, dan hal seperti itu takkan perlu untuk kita terpisah. Kita pasti bisa melalui ini bersama-sama, aku terus bertanya kenapa. Namun keinginganmu begitu kuat, kau pun ingin pergi dan meninggalkan kisah yang begitu menarik dalam hidupku.
Dulu aku berpikir, memilikimu adalah hal yang sulit. Tapi sekarang aku tau, melepasmu itu lebih dari kata sulit tuk dilakukan. Perasaanku tak karuan, tak tau arah, tak ada tujuan. Sedikit benci pun muncul, tetapi aku pun tak tahu alasanku untuk membenci.
Aku pernah sangat menyayangi, hingga dihancurkan begitu saja.
Rasaku untuk menyayangi pun hilang, dan takkan lagi aku melakukan hal itu dalam hidupku.
Kini ku kembali berjalan dijalanku sendiri, dengan diriku yang dulu. Tak memiliki rasa sedikitpun (lagi) untuk memiliki perasaan mencintai. Entah apa yang ada dikepalaku, aku lebih senang mempermainkan saat ini. 3 tahun ini kulewati dengan hati yang membeku, seakan takkan mencair kembali.
Kusibukkan diri untuk berkelakar membunuh waktu, dan berharap waktu pun bisa membunuh sisa rasa ini untukmu.
Aku mencintaimu sediam sunyi, setelah kau bungkam dan mengikatku dengan caramu meninggalkanku disini. Kepergianmu, kebahagiaan.

Ya, kebahagian. Itulah arti dari nama indahmu dalam benakku.
Share on Google Plus

About Unknown

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

1 komentar:

Berkomentarlah yang baik dan dapat dicerna oleh akal sehat, jika berkomentar yang buruk berarti akalmu tak sehat.