Andai jika di
dunia ini, wanita seperti dirimu hanya satu. Harus bersaing hingga tetes darah
terakhir pun akan kulakukan. Keyakinanku pada dirimu tidak bisa mengalahkan
satu orang pun di dunia ini yang ingin dapatkan hatimu. Karena aku tau, kaulah
kamuku. Ah lebay amat.
Percayakah akan adanya takdir? Apa
kamu menyadarinya, dan apa kamu memiliki pemikiran yang sama denganku?
Aku ingin tau jawabanmu, hanya
karena kamu pernah bilang “Mungkin karena nama kita berbeda, jadi bisa ketemu disini.” Mendengar katamu itu, pemikiran
aneh terus melintasi kepalaku, layaknya burung-burung Twitter yang berterbangan mengelilingi kepalaku. ‘Dia mengatakan
itu, apa maksudnya, apakah itu pertanda, apa hanya candaan semata?’ kata-kata
yang selalu hinggap di otakku.
Dengan hebohnya, aku bercerita
tentang ucapanmu di depan teman-temanku. Terlihat seperti jenderal pasukan
perang yang sedang memberi semangat perang prajuritnya. Dan dengan bodohnya,
aku di tertawakan oleh teman-temanku. “Ah, jangan cepet ge-er lo. Siapa tau dia cuma ngomong gitu gak ada
maksud apa-apa.”
Tapi aku tetap pada pendirianku,
bahwa ucapanmu itu adalah sebuah pertanda jika kamu mulai bisa berbicara dan
bercerita sejauh ini. Sifat dinginmu seperti tumpukan salju yang mengeras itu
pun perlahan mencair padaku. Entah ada apa denganmu, selama ini aku hanya
tersenyum dan tersenyum di hadapanmu. Walau balasanmu itu poker face.
Sangat lucu, dari awal aku sudah
memandangimu. Kau wanita yang berbeda, selalu menguncir rambutmu dan membawa
tas wanita untuk shopping yang kamu
genggam dengan kedua tanganmu dan berjalan seperti anak-anak. Siapa sangka,
pada akhirnya kita dipertemukan dalam satu tempat.
Aku pun terkejut saat nama kita
berdekatan, dan pada akhirnya menjadi partner. Disitulah aku mulai memikirkan
tentangmu, mengapa kita bisa menjadi team persis disaat kita pertama berjumpa. Hingga
kamu bisa bercerita tentangmu padaku, aku pun dengan senang hati mendengarkan
semua yang keluar dari mulutmu.
Aku pun masih mengingatnya,
namamu yang ku tau saat kamu perkenalkan dirimu padaku. Kita berdua begitu
kaku, dan kamu sibuk dengan smartphone
mu. Amanda, aku masih mengingatmu bahkan saat kamu tertawa di depan mataku. Itu
pertama kalinya aku melihatmu tertawa, sangat manis.
“Sudah selesai? Ayo pulang.” Ajakku
agar kita bisa keluar bersama walaupun arah kita berbeda. “Emang udah boleh?
Kan belom bel.” Jawabanmu membuatku tertawa spontan, seperti di sekolah saja. Dan
kamu pun tersenyum, membuat hatiku berdebar.
Nama yang berbeda, mungkin bisa
dibilang nama kita adalah nama yang ter-aneh
dan jarang dimiliki oleh orang lain. Saat kamu bercerita bahwa Amanda adalah
nama tengahmu, dan saat kamu bilang kita
ketemu disini karena nama unik kita. Dan aku mengerti, bahwa kamu sudah
merasa nyaman di dekatku.
Masih seseorang yang sama dan
dalam cerita yang sama, entah mengapa aku tak bisa menghilangkanmu dalam
pikiranku. Neo mwohaneungeoya? Premique.

Cerita yang sangat menginspirasi gan ^_^
BalasHapusoke thanks kunjungannya gan
Hapusoke thanks kunjungannya gan
Hapus