Terkadang mengabadikan itu lebih baik daripada mengubur dalam-dalam.
- Herotomo Fazry.

Wanita itu, Kau

Andai jika di dunia ini, wanita seperti dirimu hanya satu. Harus bersaing hingga tetes darah terakhir pun akan kulakukan. Keyakinanku pada dirimu tidak bisa mengalahkan satu orang pun di dunia ini yang ingin dapatkan hatimu. Karena aku tau, kaulah kamuku. Ah lebay amat.
                Percayakah akan adanya takdir? Apa kamu menyadarinya, dan apa kamu memiliki pemikiran yang sama denganku?
                Aku ingin tau jawabanmu, hanya karena kamu pernah bilang “Mungkin karena nama kita berbeda, jadi bisa ketemu disini.” Mendengar katamu itu, pemikiran aneh terus melintasi kepalaku, layaknya burung-burung Twitter yang berterbangan mengelilingi kepalaku. ‘Dia mengatakan itu, apa maksudnya, apakah itu pertanda, apa hanya candaan semata?’ kata-kata yang selalu hinggap di otakku.
                Dengan hebohnya, aku bercerita tentang ucapanmu di depan teman-temanku. Terlihat seperti jenderal pasukan perang yang sedang memberi semangat perang prajuritnya. Dan dengan bodohnya, aku di tertawakan oleh teman-temanku. “Ah, jangan cepet ge-er  lo. Siapa tau dia cuma ngomong gitu gak ada maksud apa-apa.”
                Tapi aku tetap pada pendirianku, bahwa ucapanmu itu adalah sebuah pertanda jika kamu mulai bisa berbicara dan bercerita sejauh ini. Sifat dinginmu seperti tumpukan salju yang mengeras itu pun perlahan mencair padaku. Entah ada apa denganmu, selama ini aku hanya tersenyum dan tersenyum di hadapanmu. Walau balasanmu itu poker face.
                Sangat lucu, dari awal aku sudah memandangimu. Kau wanita yang berbeda, selalu menguncir rambutmu dan membawa tas wanita untuk shopping yang kamu genggam dengan kedua tanganmu dan berjalan seperti anak-anak. Siapa sangka, pada akhirnya kita dipertemukan dalam satu tempat.
                Aku pun terkejut saat nama kita berdekatan, dan pada akhirnya menjadi partner. Disitulah aku mulai memikirkan tentangmu, mengapa kita bisa menjadi team persis disaat kita pertama berjumpa. Hingga kamu bisa bercerita tentangmu padaku, aku pun dengan senang hati mendengarkan semua yang keluar dari mulutmu.
                Aku pun masih mengingatnya, namamu yang ku tau saat kamu perkenalkan dirimu padaku. Kita berdua begitu kaku, dan kamu sibuk dengan smartphone mu. Amanda, aku masih mengingatmu bahkan saat kamu tertawa di depan mataku. Itu pertama kalinya aku melihatmu tertawa, sangat manis.
                “Sudah selesai? Ayo pulang.” Ajakku agar kita bisa keluar bersama walaupun arah kita berbeda. “Emang udah boleh? Kan belom bel.” Jawabanmu membuatku tertawa spontan, seperti di sekolah saja. Dan kamu pun tersenyum, membuat hatiku berdebar.
                Nama yang berbeda, mungkin bisa dibilang nama kita adalah nama yang ter-aneh dan jarang dimiliki oleh orang lain. Saat kamu bercerita bahwa Amanda adalah nama tengahmu, dan saat kamu bilang kita ketemu disini karena nama unik kita. Dan aku mengerti, bahwa kamu sudah merasa nyaman di dekatku.

                Masih seseorang yang sama dan dalam cerita yang sama, entah mengapa aku tak bisa menghilangkanmu dalam pikiranku. Neo mwohaneungeoya? Premique.
Share on Google Plus

About Unknown

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

3 komentar:

Berkomentarlah yang baik dan dapat dicerna oleh akal sehat, jika berkomentar yang buruk berarti akalmu tak sehat.